
Jakarta — Mobil bekas merek China mulai semakin mudah ditemukan di pasar mobil bekas Indonesia. Wuling, Chery, BYD, hingga sejumlah merek China lainnya kini menawarkan alternatif bagi konsumen yang mencari kendaraan dengan harga lebih terjangkau, fitur lengkap, dan usia kendaraan relatif muda.
Perkembangan tersebut tidak terlepas dari semakin banyaknya merek China yang masuk ke pasar otomotif Indonesia. Hingga akhir 2025, tercatat ada 16 merek asal China yang memasarkan kendaraan secara resmi di Indonesia. Di antaranya BYD, Chery, Wuling, Denza, AION, Geely, Jaecoo, DFSK, Jetour, BAIC, Xpeng, Neta, Maxus, dan Seres.
Meningkatnya populasi mobil China baru secara bertahap juga menciptakan pasokan kendaraan di pasar sekunder. Sepanjang 2025, BYD menjadi merek China dengan penjualan retail tertinggi di Indonesia, mencapai 44.342 unit berdasarkan data GAIKINDO. Wuling mencatat 20.607 unit.
Harga menjadi salah satu daya tarik
Salah satu alasan mobil China bekas mulai dilirik adalah harganya yang relatif menarik. Beberapa model tahun muda kini bisa ditemukan dengan harga yang cukup jauh di bawah harga barunya, meski harga sebenarnya tetap bergantung pada tahun produksi, kondisi kendaraan, jarak tempuh, dan kelengkapan dokumen.
Sebagai gambaran, sejumlah listing pasar menunjukkan Wuling Alvez keluaran 2023–2024 berada di kisaran Rp175 juta–Rp185 juta, sedangkan Wuling Almaz tahun 2022–2023 berada sekitar Rp155 juta–Rp195 juta. Untuk kendaraan listrik, Wuling Air EV keluaran 2022–2024 berada di kisaran Rp110 juta–Rp124 juta dalam pantauan beberapa bursa daring.
Model Chery juga mulai memiliki pasar sekundernya. Chery Tiggo 7 Pro keluaran 2022–2023, misalnya, ditawarkan sekitar Rp195 juta–Rp265 juta, sedangkan Tiggo 8 Pro tahun 2023 berada di kisaran Rp289 juta dalam sejumlah listing yang dipantau.
Belum bisa menyamai mobil Jepang
Meski mulai diminati, pasar mobil China bekas belum bisa dikatakan menyaingi mobil Jepang dalam hal volume maupun nilai jual kembali.
Direktur OLXmobbi Agung Iskandar mengatakan pasar mobil bekas di platform tersebut masih didominasi merek Jepang seperti Toyota, Suzuki, dan Honda. Menurutnya, belum ada merek China yang masuk daftar mobil bekas terlaris di OLXmobbi pada tahun sebelumnya. Salah satu penyebabnya adalah populasi mobil China di Indonesia yang masih lebih muda dan belum sebanyak merek Jepang.
Faktor resale value juga masih menjadi tantangan. Pelaku industri menilai sejumlah mobil China, terutama kendaraan bermesin pembakaran internal yang telah berusia beberapa tahun, mengalami depresiasi lebih besar dibandingkan mobil Jepang di kelas yang sama.
Kondisi ini justru dapat menjadi peluang bagi konsumen. Mobil dengan usia relatif muda dan fitur yang masih modern bisa diperoleh dengan harga bekas yang lebih rendah dibanding harga ketika baru.
Mobil listrik ikut mendorong pasar sekunder
Pertumbuhan mobil listrik China juga berpotensi memperbesar pilihan kendaraan China di pasar bekas. BYD menjadi contoh paling menonjol. Selain mencatat penjualan tinggi di pasar mobil baru, sejumlah model BYD kini mulai muncul di pasar kendaraan bekas.
Namun, pembeli mobil listrik bekas tetap perlu memperhatikan kondisi baterai, riwayat servis, garansi, serta ketersediaan jaringan purnajual sebelum melakukan transaksi.
Konsumen tetap perlu selektif
Harga murah tidak selalu berarti pilihan terbaik. Sebelum membeli mobil China bekas, calon pembeli sebaiknya melakukan inspeksi kendaraan secara menyeluruh, memeriksa riwayat servis dan kecelakaan, memastikan kelengkapan dokumen, serta mengecek ketersediaan suku cadang dan jaringan servis.
Untuk mobil listrik, kondisi baterai dan sisa masa garansi juga menjadi faktor penting karena dapat berpengaruh terhadap nilai kendaraan di masa depan.
Dengan semakin banyaknya mobil China yang beredar di Indonesia, pasar sekundernya diperkirakan akan semakin beragam. Mobil China bekas memang mulai mendapatkan tempat di hati konsumen, tetapi saat ini lebih tepat disebut sebagai pasar yang sedang berkembang, bukan pasar yang sudah menggeser dominasi mobil Jepang.
