Meski penjualan kendaraan listrik di Indonesia terus bertumbuh dan pilihan model semakin banyak, sebagian besar konsumen ternyata masih belum benar-benar yakin untuk beralih dari mobil bensin ke mobil listrik. Berbagai survei terbaru menunjukkan bahwa persoalan utamanya bukan lagi sekadar harga, melainkan kepercayaan terhadap teknologi, infrastruktur, hingga layanan purnajual.
Minat Tinggi, Pembelian Masih Tertahan
Survei Tirto bersama Jakpat pada Juli 2026 terhadap 1.500 responden di 34 provinsi menemukan sekitar 71% masyarakat tertarik memiliki kendaraan listrik dalam lima tahun ke depan. Namun, minat tersebut belum otomatis berubah menjadi keputusan membeli.
Fenomena ini menunjukkan bahwa pasar kendaraan listrik Indonesia masih berada pada tahap “wait and see”. Banyak calon pembeli memilih menunggu hingga ekosistem kendaraan listrik dianggap lebih matang.
Lima Alasan Terbesar Konsumen Masih Ragu
1. Khawatir soal baterai
Baterai menjadi kekhawatiran terbesar. Konsumen mempertanyakan umur pakai baterai, biaya penggantian jika rusak, hingga aspek keselamatan saat digunakan dalam jangka panjang. Dalam survei Tirto-Jakpat, sekitar 28,65% responden menyebut faktor ini sebagai alasan utama menunda pembelian.
2. Infrastruktur pengisian belum merata
Walaupun jumlah SPKLU terus bertambah, penyebarannya masih terkonsentrasi di Pulau Jawa. Konsumen di luar kota-kota besar masih khawatir kesulitan menemukan lokasi pengisian daya saat bepergian jauh.
3. Jarak tempuh dan waktu pengisian
“Range anxiety” atau kecemasan kehabisan daya masih menjadi hambatan psikologis. Sebagian masyarakat merasa waktu pengisian baterai masih terlalu lama dibandingkan mengisi BBM di SPBU.
4. Bengkel resmi masih terbatas
Riset Populix 2025 menunjukkan 56% responden khawatir karena tidak semua bengkel mampu menangani kendaraan listrik, bahkan untuk perbaikan non-kelistrikan. Jarak antar dealer resmi juga dinilai masih cukup jauh di beberapa daerah.
5. Nilai jual kembali belum pasti
Banyak calon pembeli masih mempertanyakan harga jual kembali kendaraan listrik setelah beberapa tahun digunakan. Ketidakpastian ini membuat sebagian konsumen memilih menunggu perkembangan pasar bekas EV.
Harga Bukan Lagi Hambatan Utama
Menariknya, hasil survei terbaru menunjukkan bahwa harga kini bukan lagi penghalang terbesar. Hanya sebagian kecil responden yang menjadikan harga sebagai alasan utama menunda pembelian. Sebaliknya, konsumen lebih fokus pada kepastian penggunaan sehari-hari, garansi baterai, layanan purnajual, dan kemudahan pengisian daya.
Apa yang Bisa Mendorong Adopsi EV?
Sejumlah lembaga riset menilai percepatan adopsi kendaraan listrik membutuhkan langkah yang berjalan bersamaan:
- memperluas jaringan SPKLU hingga luar Pulau Jawa,
- memperbanyak bengkel dan teknisi tersertifikasi,
- memperkuat edukasi mengenai umur baterai dan biaya kepemilikan,
- menghadirkan lebih banyak model sesuai kebutuhan pasar Indonesia, terutama MPV dan mobil keluarga dengan harga yang kompetitif.
Kesimpulan
Konsumen Indonesia sebenarnya semakin tertarik terhadap kendaraan listrik, tetapi keputusan membeli masih tertahan oleh persoalan kepercayaan terhadap baterai, infrastruktur, layanan purnajual, serta nilai jual kembali. Dengan semakin berkembangnya ekosistem EV dan bertambahnya pilihan model di pasar, keraguan tersebut berpeluang berkurang dalam beberapa tahun ke depan.
